Kita…
Sudah
tidak sepantasnya kata itu terucap untuk aku dan kamu. Bagaimana tidak, kamu
lebih memilih bersamanya ketimbang aku yang memang benar-benar mencintaimu.
Kamu tau.. Seluruhnya aku berikan untukmu tanpa terkecuali. Tapi apa
balasannya? Air susu dibalas air tuba!
Menjijikan.
Memang
hubungan kita saat ini masih berstatus, namun percaya atau tidak.. jika memang
kamu ingin bersamanya takan ada lagi sebuah status itu. Mungkin kamu mengira
aku tak tau menahu tentang apa yang kamu lakukan bersamanya disana, namun Tuhan
adil. Ia memberi tahuku dengan seribu macam cara. Seperti halnya kamu menyimpan
sesuatu yang busuk, kelak akan terbongkar kebusukan itu.
Kini,
sirna sudah kepercayaanku untukmu, sirna sudah semuanya. Semuanya yang kita
buat sejak dulu. Sejak aku bodoh karna mencintai orang yang ternyata masih
belum bisa melupakan sosok idaman dimasa lalunya. Ya.. Mantanmu.
Berterimakasihlah
padaku, karena aku bersedia menjadi sandaran hatimu hanya saat dia
meninggalkanmu; pelampiasanmu. Tak apa.. Percayalah apa yang kamu lakuin ke aku
akan terjadi di kamu kelak. Cepat atau lambat semua akan terjadi. Karma akan
menghampiri mu.
Mungkin
jarak yang mengakibatkan kamu berpaling. Aku tak pernah suka jarak. Tapi apa
dayaku lagi, kamu terlanjur mencintainya.. Terlanjur sudah saling menyakiti
hati orang yang menyayanginya.. Terlanjur membuat semua keindahan menjadi badai
besar yang menghantam damainya sebuah taman cinta.
Inilah
akhir dari kelelahanku. Akhir dari keluhanku. Aku takan menyalahkanmu, karna
memang sebenarnya cinta tak bisa diingkari. Akupun takan mengakhiri hubungan
ini sebelum kamu mengaku atas semua kebohongan yang kamu sembunyikan itu..
Aku tetap
disini, berdiri sendiri, menunggu badai yang akan menghantam indahnya taman
cintaku yang dulu kita rawat bersama. Terimakasih sudah bersedia untuk
menyakiti hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar